Dalam perjalanan hidup, seringkali kita tergoda untuk mengandalkan kekuatan, kecerdasan, atau usaha kita sendiri sepenuhnya. Kita mungkin merasa cemas saat menghadapi ketidakpastian finansial, atau justru menjadi sombong ketika mencapai kesuksesan, melupakan dari mana segala berkat itu berasal. Pergumulan akan rasa kuatir akan masa depan atau kebanggaan diri yang berlebihan seringkali menghalangi kita untuk melihat tangan Tuhan yang bekerja di balik setiap pencapaian dan rezeki yang kita terima.
Namun, firman Tuhan memberikan pengingat yang begitu penting: "Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini." (Ulangan 8:18). Ayat ini dengan jelas menyatakan bahwa bukan semata-mata karena kemampuan kita, melainkan karena kasih karunia dan anugerah-Nya lah kita dimampukan untuk berusaha, memiliki kekuatan, dan pada akhirnya memperoleh segala sesuatu yang kita sebut 'kekayaan'—baik itu materi, talenta, kesehatan, atau kesempatan.
Langkah iman kita adalah dengan senantiasa mengingat dan menghargai anugerah ini. Mari kita kembangkan hati yang bersyukur dalam setiap situasi, mengakui bahwa Tuhan adalah sumber dari segala kebaikan. Ketika kita menghadapi tantangan, mari kita berserah kepada-Nya, percaya bahwa Dia yang memberi kekuatan akan terus memelihara kita. Dan ketika kita diberkati, marilah kita menggunakan berkat itu dengan bijak, tidak untuk kebanggaan diri, tetapi untuk kemuliaan nama-Nya dan menjadi saluran berkat bagi sesama, sebagai respons nyata atas kasih karunia-Nya yang tak terbatas.