Dalam hiruk pikuk kehidupan modern, kecemasan dan ketakutan telah menjadi teman tak diundang bagi banyak jiwa. Tekanan pekerjaan, masalah keluarga, ketidakpastian masa depan, atau bahkan berita dunia yang seringkali menakutkan, dengan mudah mencuri damai sejahtera dari hati kita. Kita sering merasa terjebak dalam lingkaran kekhawatiran yang tiada henti, mencari kedamaian di tempat-tempat yang salah, dan akhirnya tetap merasa gelisah serta tidak tenang.
Namun, di tengah kegelisahan itu, ada janji surgawi yang menggema sejak malam Natal pertama. Lukas 2:13-14 menyatakan, 'Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya: ”Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.”' Para malaikat tidak hanya mengumumkan kelahiran Juru Selamat, tetapi juga damai sejahtera yang akan diberikan kepada manusia yang berkenan kepada-Nya. Ini bukan damai sejahtera duniawi yang fana, melainkan 'shalom' ilahi, kedamaian utuh yang berakar pada kehadiran dan kedaulatan Allah sendiri.
Lantas, bagaimana kita merespons janji damai sejahtera ini? Langkah iman kita adalah dengan membawa segala kecemasan dan ketakutan kita kepada Sumber Damai itu sendiri. Alih-alih memendamnya atau mencoba menyelesaikannya sendiri, kita diundang untuk menyerahkannya dalam doa, mempercayai bahwa Dia yang menjanjikan damai akan memelihara hati dan pikiran kita. Dengan bersyukur atas kasih karunia-Nya dan tetap berpegang pada firman-Nya, kita membiarkan damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, memenuhi dan menjaga hati kita, bahkan di tengah badai kehidupan. Ini adalah anugerah ilahi bagi mereka yang menaruh iman kepada-Nya.