Seringkali, kita bergumul dengan kemurahan hati. Ada keraguan saat harus memberi, baik waktu, tenaga, maupun harta, karena rasa takut kekurangan atau keinginan untuk menyimpan bagi diri sendiri. Pikiran kita mungkin dikuasai kekhawatiran bahwa memberi akan mengurangi apa yang kita miliki, sehingga hati menjadi enggan atau berduka ketika harus berbagi. Pergumulan ini bisa muncul dalam skala kecil, seperti menunda membantu sesama, hingga keputusan besar mengenai keuangan, menghambat kita mengalami sukacita dari memberi.
Namun, Firman Tuhan mengajarkan prinsip yang berbeda dan menjanjikan berkat: "Engkau harus memberi kepadanya dengan limpahnya dan janganlah hatimu berdukacita, apabila engkau memberi kepadanya, sebab oleh karena hal itulah Tuhan, Allahmu, akan memberkati engkau dalam segala pekerjaanmu dan dalam segala usahamu" (Ulangan 15:10). Ayat ini bukan sekadar perintah, melainkan janji ilahi yang menegaskan bahwa tindakan memberi dengan sukacita dan berlimpah justru menjadi saluran berkat Tuhan yang luar biasa dalam setiap aspek kehidupan kita. Ini mengubah perspektif kita dari keraguan menjadi keyakinan akan pemeliharaan-Nya yang tak terbatas.
Langkah iman kita adalah menanggapi janji ini dengan praktik memberi yang tulus, dengan hati yang rela dan murah hati, bukan karena terpaksa atau mengharapkan imbalan, melainkan karena kasih. Mulailah dengan melihat kebutuhan di sekitar kita – apakah itu keluarga, teman, komunitas, atau pelayanan gereja – dan berilah bukan dari sisa, tetapi dari kelimpahan hati yang bersyukur. Percayalah bahwa setiap benih yang kita tabur dengan sukacita akan menghasilkan tuaian berkat dari Tuhan, baik dalam bentuk materi, damai sejahtera, maupun kepuasan batin. Dengan demikian, kita mengalami kasih dalam pelayanan secara nyata dan menjadi saluran berkat bagi sesama, memuliakan nama-Nya.